Minggu, 12 September 2021

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "8 Kisah Menarik Soal Alexander Agung, Murid Aristoteles hingga Jasad yang Diawetkan di Tong Madu", Klik untuk baca: https://internasional.kompas.com/read/2021/09/12/235912270/8-kisah-menarik-soal-alexander-agung-murid-aristoteles-hingga-jasad. Penulis : Shintaloka Pradita Sicca Editor : Shintaloka Pradita Sicca Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

 

Hidup dari 356 hingga 323 SM, Alexander Agung dikenang sebagai tokoh sejarah pemersatu Yunani kuno yang riwayatnya diliputi sejumlah fakta dan fiksi. Namun, berikut ada 8 kisah fakta besar menarik dari kehidupan pemimpin Makedonia yang menyatukan Yunani, dilansir dari History:

1. Alexander Agung murid Aristoteles Ayah Alexander, Philip II dari Makedonia, membayar Aristoteles, salah satu filsuf terbesar dalam sejarah untuk mendidik pengeran yang saat itu berusia 13 tahun. Sedikit yang diketahui tentang bimbingan 3 tahun yang diberikan Aristoteles kepada Alexander, tetapi pemuda itu menjadi tertarik dengan Diogenes dari Sinope, dan mencari pertapa terkenal itu. Diogenes dari Sinope adalah seorang filsuf aliran sinisme yang menolak adat istiadat sosial dan tidur di tong besar. Alexander mendekati pemikir ini alun-alun kota, tempat ia tinggal, Alexander kemudian bertanya kepada Diogenes, apakah ada sesuatu yang bisa dia lakukan dengan kekayaan yang besar untuknya.



2. Selama 15 tahun Alexander Agung tak terkalahkan Taktik dan strategi militer Alexander Agung masih dipelajari di akademi militer hingga saat ini.

Dari kemenangan pertamanya pada usia 18 tahun, Alexander Agung memperoleh reputasi yang mampu memimpin pasukannya untuk berperang dengan kecepatan yang mengesankan, memungkinkan pasukan yang lebih kecil untuk mencapai dan menghancurkan garis musuh sebelum musuhnya siap. Setelah mengamankan kerajaannya di Yunani, pada 334 SM, Raja Kekaisaran Terbesar zaman kuno ini menyeberang ke Asia (sekarang Turki) di mana ia memenangkan serangkaian pertempuran dengan Persia di bawah Darius III. Titik kekuatan tempur pemimpin kekaisaran adalah barisan pasukan Makedonia berkekuatan 15.000 orang, yang unit-unitnya menahan pasukan Persia dengan menggunakan tombak sepanjang 20 kaki, yang disebut sarissa

Dari kemenangan pertamanya pada usia 18 tahun, Alexander Agung memperoleh reputasi yang mampu memimpin pasukannya untuk berperang dengan kecepatan yang mengesankan, memungkinkan pasukan yang lebih kecil untuk mencapai dan menghancurkan garis musuh sebelum musuhnya siap. Setelah mengamankan kerajaannya di Yunani, pada 334 SM, Raja Kekaisaran Terbesar zaman kuno ini menyeberang ke Asia (sekarang Turki) di mana ia memenangkan serangkaian pertempuran dengan Persia di bawah Darius III. Titik kekuatan tempur pemimpin kekaisaran adalah barisan pasukan Makedonia berkekuatan 15.000 orang, yang unit-unitnya menahan pasukan Persia dengan menggunakan tombak sepanjang 20 kaki, yang disebut sarissa.

3. Alexander Agung namai 70 kota berdasarkan namanya dan kudanya satu Berkuasa dari 336 SM hingga 323 SM, Alexander Agung menandai penaklukkannya dengan mendirikan puluhan kota (yang biasanya dibangun di sekitar benteng militer sebelumnya), yang selalu ia beri nama Alexandria. Kota Alexandria yang paling terkenal adalah yang didirikan di muara Sungai Nil pada 331 SM, saat ini menjadi kota terbesar kedua di Mesir. Kota Alexandria lainnya berada di Turki, Iran, Afghanistan, Tajikistan, dan Pakistan saat ini, menurut rekam jejak kemajuan pasukan Makedonia miliknya

Di dekat lokasi pertempuran di sungai Hydaspes, kemenangan paling mahal dari kampanyenya di India, Alexander mendirikan kota Bucephala. Kota itu dinamai berdasarkan kuda kesayangannya, yang terluka parah dalam pertempuran itu.

4. Alexander Agung nikahi istrinya, Roxanne, setelah cinta pada pandangan pertama Setelah penangkapan yang spektakuler di Sogdian Rock pada 327 SM, sebuah benteng gunung yang tampaknya tak tertembus, Alexander Agung yang berusia 28 tahun mengamati para tawanannya ketika Roxanne, putri remaja seorang bangsawan Baktria, menarik perhatiannya. Segera setelah itu, mereka menikah dalam upacara pernikahan tradisional. Raja Makedonia ini mengiris sepotong roti menjadi 2 dengan pedangnya, dan membaginya dengan pengantin barunya.


0 comments:

Posting Komentar