Rabu, 25 Agustus 2021

Sepenggal Kisah Yani Malhendo, Petinju Indonesia yang Bikin Pacquiao 'Kabur

 

Jakarta Yani Malhendo sudah lama pensiun sebagai petinju. Namun rekam jejak mantan juara kelas terbang WBO International itu ikut mewarnai perjalanan karier petinju sekelas Manny Pacquiao

Manny Pacquiao tengah berada di tubir karier bertinjunya. Di usia yang sudah mencapai 43 tahun, petinju asal Filipina itu semakin dekat dengan kekalahan. Terbaru, Pacman--julukan Pacquiao--kalah angka dari petinju Kuba, Yordenis Ugas pada pertarungan di T-Mobile, Las Vegas, Minggu (22/8). 


Ini merupakan kekalahan ke-8 Pacquiao sepanjang kariernya. Tiga diantaranya berakhir dengan KO.  

Usai pertarungan, Pacquiao memang tidak secara gamblang menyampaikan keinginannya untuk pensiun. Hanya saja, pemilihan presiden Filipin 2022 nanti sepertinya bakal menguras pikirannya. Karena itu wajar bila banyak pihak menganggap sudah waktunya Pacman beranjak dari tinju. 

Apalagi sudah tidak ada yang perlu dibuktikan oleh Pacquiao. Gelar juara dunia di delapan kelas berbeda sudah cukup untuk menjadikannya sebagai legenda tinju profesional sepanjang masa.


Yani Malhendo memang tidak setenar Pacman. Namun sepenggal kisah mantan petinju asal Surabaya tersebut tidak akan bisa dihilangkan dari warna-warni perjalanan terjal Pacman menuju pentas dunia. 

"Selama 25 tahun kenangan itu selalu saya simpan," kata Yani ketika berbincang dengan . "Tahun 1996 saya dijadwalkan bertanding melawan Manny Pacquiao," ujarnya

Kami sudah timbang badan dan sudah cek kesehatan, jadi tinggal bertanding saja," ujar Yani. 

"Saya masih ingat, saat pukul 12.00 siang, saya berada di kamar. Tiba-tiba promotor masuk bersama manajer dan perwakilan tim Pacman. Singkat cerita, mereka bilang kalau Pacquiao tidak jadi bertanding. Promotor pun menjanjikan petinju lain sebagai lawan saja," kata Yani Malhendo. 

"Saat itu saya bilang tidak bisa, karena saya datang untuk bertemu Pacquiao," Yani menambahkan. 

Perbincangan berlangsung alot. Namun kubu Yani akhirnya mengalah dan bersedia bertanding melawan petinju lain dengan catatan, bayaran dinaikkan menjadi 4500 USD. 

"Kami akhirnya sepakat, daripada tidak bertanding sama sekali," kata Yani. 

Yani mengaku tidak mengetahui persis alasan Pacquiao mundur dari pertandingan itu. Hanya saja dia yakin bila duel tetap berlangsung, Pacquiao tidak akan mampu bertahan lama.

"Ronde ketiga bisa KO. Saat itu dia masih muda sekali, masih 18 atau 19 tahun. Belum matang. Apalagi, saat bertemu Ippo Gala saya bisa menang KO," beber Yani. 


0 comments:

Posting Komentar