Minggu, 22 Agustus 2021

Pendakian Terakhir dalam Dekapan Gunung Bawakaraeng

 

Delapan remaja asal Gowa, Sulawesi Selatan. Steven (21), Zainal Abidin (21), Rian (20), Fadly (20), Andi Fauzan Mukhtahari (21), Wahyudi (21), Suardi (21), dan yang termuda Febrian Alfiandi (17). Semua mahasiswa, kecuali Febrian yang berstatus pelajar. Mereka membayangkan bisa mengikuti upacara peringatan HUT ke-76 Indonesia di atas ketinggian. Di antara gugusan awan. .TOGA4D

Steven pamit kepada ibundanya, Vivi Desi Yulianita. Steven menyampaikan ingin pergi ke rumah temannya di kaki Gunung Bawakaraeng. Ibunda menitipkan pesan. Agar Steven tidak mendaki gunung. Lantaran cuaca sedang tidak bersahabat..TOGA4D

Sempat dia cium dan peluk saya sebelum berangkat," ujar Vivi.

Steven berangkat bersama rekannya. Dengan segala perhitungan. Memilih waktu perjalanan pada akhir pekan, Sabtu (14/8). Tiga hari sebelum hari peringatan kemerdekaan. Mereka berangkat dari Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Tujuannya, Gunung Bawakaraeng. Gunung yang sudah tersohor namanya di Sulawesi Selatan. Lebih dari 66 kilometer jarak yang harus ditempuh dari rumah..TOGA4D

Hari sudah gelap saat tiba di Pos Bulubalea. Laju perjalanan mereka dihentikan petugas. Tidak diperbolehkan ada pendakian jelang peringatan kemerdekaan. Sesuai aturan pembatasan aktivitas, Gunung Bawakaraeng pun terpaksa ditutup sementara..TOGA4D

Di sana sudah ada ratusan pendaki yang bersiap menapaki jejak kaki di Gunung Bawakaraeng. Jumlahnya terlalu banyak. Diperkirakan 812 orang pendaki. Petugas tak sanggup menghalangi. Pos penjagaan terbuka. Steven dan rekan-rekannya, berhasil menembus pos penjagaan.TOGA4D

Keesokan harinya, delapan karib ini mulai melangkahkan kaki di antara akar-akar pohon dan bebatuan. Di bawah rimbunnya pepohonan Gunung Bawakaraeng. Sesekali beristirahat sejenak, melepaskan lelah. Untuk kemudian berjalan kembali.TOGA4D

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, mereka memutuskan bermalam. Ketika badai menerjang. Mereka menggelar tenda di pos delapan. Malam itu, dihabiskan untuk istirahat. Sebab, keesokan hari perjalanan dimulai kembali. Mereka menatap puncak Gunung Bawakaraeng, di ketinggian 2.830 meter di atas permukaan laut (mdpl)..TOGA4D

Selepas malam berganti hari, mereka mengemasi barang. Berjalan menuju puncak. Hari masih gelap. Delapan remaja ini berjalan bersama. Hingga akhirnya, mereka berhasil menapakkan kaki di puncak Gunung Bawakaraeng. Ada rasa bahagia di sana. Tetapi tidak lama. Badai di puncak gunung, memaksa mereka turun. Tas berisi logistik hampir kosong.

Cerita di jalan pulang, tak semanis awal pendakian. Mereka terpisah jalan. Steven tak kuasa menahan dingin udara Gunung Bawakaraeng yang menusuk dalam tubuh. Dia roboh di jalur pendakian. Selepas pos delapan, mendekati pos tujuh. Hanya seorang diri. Tak ada rekan yang menemani.TOGA4D

Dari kejauhan, rombongan pendaki lain melihat Steven. Tubuhnya sudah tak lagi bergerak. Dihantam hipotermia, penyakit di ketinggian yang menghantui para pendaki. Steven meninggal dunia di pelukan Gunung Bawakaraeng. Kabar ini terdengar tim penyelamat, Siaga Merah Putih. Mereka bergerak, mengevakuasi jasad Steven. Dari jalur pendakian, menuju pos tujuh. Kemudian dibawa ke Puskesmas Tinggimoncong, Gowa..TOGA4D

Setelah jasad Steven tiba di Puskesmas, tim penyelamat kembali mendapat kabar. Ada pendaki yang juga mengalami hipotermia. Dikabarkan meninggal dunia. Lokasinya, di pos lima Gunung Bawakaraeng. Ternyata, pendaki itu rekan Steven. Di pos lima, Wahyudi dan Suardi melewati malam bersama rekannya, Rian. Bertiga melawan dinginnya malam..TOGA4D

Ketika matahari mulai meninggi, Wahyudi dan Suardi mencoba membangunkan rekannya. Tapi sudah tidak bergerak. Satu lagi rekannya meninggal dunia. Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WITA. Wahyudi dan Suardi membaringkan tubuh rekannya di antara bebatuan dan pohon rindang. Tubuhnya ditutup Jaket hitam. Sebagai tanda..TOGA4D

Langkah berat Wahyudi dan Suadi. Mereka terpaksa meninggalkan rekannya seorang diri. Mencari bantuan untuk membawa turun jenazah sahabatnya.TOGA4D

Bersamaan dengan itu, tim SAR menyisir lokasi. Ada jenazah yang ditemukan. Namun bukan jenazah Rian. Pendaki lain yang juga rombongan Steven. Dia adalah Zainal Abidin. Jenazahnya tergeletak di pinggir jalan. Di antara pos 6 mendekati Pos 5. Hari menunjukkan pukul 14.20 WITA, Rabu (18/8)

"Temannya yang ikut menunjukkan lokasi tidak melihat secara jelas apakah itu Rian atau Zainal. Setelah dikirimkan foto oleh keluarganya, ternyata itu bukan Rian," ujar Kapolsek Tinggimoncong Gowa Iptu Hasan..TOGA4D

Jenazah dibawa turun. Menuju Puskesmas Tinggimoncong. Kantong jenazah dibuka. Ternyata benar, itu bukan sosok Rian melainkan Zainal. Tim penyelamat kembali menyusuri jalan setapak di Gunung Bawakaraeng. Mencari Rian. Ada kekhawatiran, jenazah dihantam badai atau terperosok ke jurang..TOGA4D

Pencarian berlangsung meski matahari sudah terbenar. Tim penyelamat menyisir jalan. Mata mereka tajam menembus pekat malam. Proses pencarian berlangsung dramatis. Kondisi sudah gelap dan cuaca Gunung Bawakaraeng yang ekstrem.TOGA4D 

Mereka menyusuri pos lima Gunung Bawakaraeng. Tempat istirahat terakhir Rian. Lokasi tubuh Rian ditinggalkan. Sekitar 500 meter dari pos lima, terlihat tubuh pendaki terbujur kaku. Jenazah Rian ditemukan. Pukul 20.40 WITA, Rabu (18/8).TOGA4D 

"Korban ditemukan pukul 20.40 Wita sekitar 500 meter dari Pos 5 dalam keadaan meninggal dunia," ujar Kepala Basarnas Sulsel, Djunaidi.TOGA4D 

Tiga pendaki yang berdiri bersama di puncak gunung, ditemukan terpisah di jalan pulang. Steven terbujur kaku di Pos 7. Zaenal menghembuskan napas terakhir di antara Pos 5-6. Dan jejak pendakian terakhir Rian di sekitar Pos 5.TOGA4D 

Seharusnya Steven berbahagia bulan depan. Kuliahnya sudah selesai. Bulan depan, mahasiswa Politeknik Negeri Ujungpandang akan diwisuda. Jalan hidup berkata lain.

Ibunda Steven, Vivi Desi Yulianita tak kuasa melihat anaknya pulang berbalut kantong jenazah. Tubuh buah hatinya terbujur kaku. Wajahnya pucat memutih. Tangis haru terdengar dari dalam rumah di Jalan Melati Nomor 25, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Tangisan mengantar kepergian Steven.TOGA4D 

"Steven mau diwisuda bulan depan dipusnya, sudah selesai kuliahnya, tapi takdir berkata lain," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.TOGA4D 

Jenazah Zainal Abidin, mahasiswa UIN Alauddin Makassar juga telah diserahkan kepada keluarga di rumah duka, Jalan Beringin, Kasomberan, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Suasana haru juga menyelimuti kediaman korban. Puluhan rekan kuliah korban serta kerabatnya memadati rumah duka.

Sementara lima rekan Steven, berhasil selamat. Fadly (20), Andi Fauzan Mukhtahari (21), Wahyudi (21), Febrian Alfiandi (17), dan Suardi (21), kembali ke pelukan hangat keluarga.

"Cuaca ekstrem dan ketidaksiapan para pendaki baik mental maupun perbekalan menjadi faktor utama penyebab banyak korban meninggal dunia di atas gunung," kata Kepala Basarnas Makassar Djunaidi. 



0 comments:

Posting Komentar